Thursday, October 23, 2025

Kisah Cinta Boru Sidabalok dan Marga Ambarita "Pusaka dari Sihaporas"

 

Kisah Cinta Boru Sidabalok dan Marga Ambarita "Pusaka dari Sihaporas"


Pengantar 

Saatnya Introspeksi

Saatnya pinompar Ompu Mamontang Laut menundukkan hati, merenung, dan melakukan introspeksi sebelum penyesalan menghampiri di kemudian hari. Kehidupan ini singkat, tetapi pusaka leluhur adalah abadi. Apakah kita sudah sungguh-sungguh menjaga warisan itu? Apakah kita sudah hidup dalam kasih yang diajarkan Ompu Mamontang Laut, atau justru membiarkan keharmonisan keluarga ini terpecah oleh kepentingan pribadi?

Sejak saya mengenal lebih dalam keluarga Ambarita melalui bapak saya, alm. Daulat Ambarita (Op. James Ambarita), saya menarik satu kesimpulan pahit: keharmonisan di antara pinompar Ompu Mamontang Laut seakan bisa dihitung dengan nominal minus. Padahal, kita semua satu darah, satu leluhur, satu pusaka: Sihaporas.



Bab I – Pusaka Itu Bernama Sihaporas

Sihaporas adalah huta yang dibuka oleh Ompu Mamontang Laut Ambarita di tengah hutan Aek Nauli. Dari huta inilah lahir sejarah yang panjang, suka dan duka, harapan dan doa.

Di Sihaporas berdiri tugu Ompu Mamontang Laut. Di sanalah anak-anaknya dikuburkan. Bahkan bapak saya pun dimakamkan di tanah pusaka itu, meski beliau sudah lama merantau.

Banyak cerita suka dan duka dari almarhum bapak saya tentang Sihaporas. Dari ribuan kisah itu, ada satu pesan yang melekat di hati saya:

“Nang boha pe, boru Ambarita par Sihaporas do ho, da boru. Tudia pe ho mangalakka, manang molo berhasil ho haduan di pangarantoanmu, di tano on manang di tano si leban, ikkon tetap do ho boru Ambarita sian Sihaporas. Alana par Sihaporas do bapakmu, oppungmu, jala namamupus hita sude Ompu Mamontang Laut. Na sakti do Ompu Mamontang Laut.”

Artinya: ke manapun kita pergi, siapa pun kita nanti, jangan pernah lupakan bahwa kita ini adalah Ambarita dari Sihaporas.


Bab II – Api Ujian di Masa Kecil

Bapak saya, Daulat Ambarita, lahir dari keluarga yang keras diuji. Ayahnya, Ompu Janimbang, meninggal akibat kecelakaan truk kayu di Balata. Truk itu terguling saat mengangkut kayu dari Aek Nauli ke Panglong. Kepala Ompu Janimbang terbentur keras, dan ia meninggal di tempat.

Belum sempat duka itu reda, rumah bolon mereka yang megah di Sihaporas pun terbakar habis. Semua harta, uang, pakaian ludes tak bersisa. Bayangkan, Oppung Boru Sitorus, yang baru saja kehilangan suami dan sedang mengandung anak ketiga, harus menanggung semuanya sendiri.

Mereka tinggal di tenda-tenda darurat yang bocor, di atas tanah tempat rumah bolon itu dulu berdiri. Di situlah oppung boru melahirkan. Sementara bapak saya, masih berusia 7 tahun, harus menjadi tulang punggung keluarga. Beliau menggendong adiknya yang masih kecil, menjaga ibunya yang larut dalam trauma, sambil berusaha bertahan hidup.

Bapak hanya sempat sekolah beberapa tahun di Sekolah Rakyat (SR). Begitu bisa membaca, menulis, dan berhitung, beliau sudah ikut berburu di tombak, melangsir kayu, dan menjual hasilnya ke Panglong Cina di Siantar. Usia 12 tahun, beliau sudah bekerja layaknya orang dewasa.

Paman beliau, Ompu Herbi, mengajarkan arti tanggung jawab: bagaimana menjadi laki-laki yang berdiri tegak meski ayah sudah tiada.



Bab III – Jejak Perjuangan di Parapat

Saat pemberontakan meletus di Sumatera Utara, salah satu abang bapak dari Parapat mengajaknya bergabung dengan Tentara Rakyat. Demi makan dan kehidupan, bapak ikut berjuang meski nyawa taruhannya. Setelah pemberontakan berakhir, abangnya yang mulai merintis usaha di Parapat mengajak bapak membantu.

Dari usaha kecil itu berkembanglah toko leveransir souvenir di Danau Toba. Di sinilah jalan cinta mulai terbentang.



Bab IV – Pertemuan dengan Boru Sidabalok

Di Parapat, bapak bertemu dengan boru Sidabalok, seorang pelanggan setia. Ia adalah boruni namora dari Tomok, putri keluarga terpandang pemilik penginapan dan toko souvenir.

Pertemuan demi pertemuan melahirkan keberanian untuk menyatakan hati. Namun, jalan itu terjal. Orang tua dan ito-ito mamak menolak keras. “Boru Tomok tidak boleh sembarangan dipinang,” kata mereka.



Bab V – Jalan Mangalua

Cinta mencari jalan. Tiga sahabat dekat mamak menyarankan agar ia mangalua. Maka berangkatlah mamak bersama ketiga sahabatnya menuju Sihaporas.

Namun perjalanan itu mengejutkan. Mereka harus melewati hutan Aek Nauli, jalan berlumpur, suara monyet bersahutan, dan kampung yang jauh dari gemerlap. Ketiga sahabatnya kaget mereka menyangka bapak berasal dari Parapat kota, bukan dari huta sederhana di tengah hutan.

Sesampainya di Sihaporas, oppung boru menyambut mereka dengan pelukan. Mamak bertanya:
“Apakah di kampung inilah kita menikah?”
Bapak menjawab:
“Iya, inilah hutaku. Huta bapakku. Inilah huta leluhur kita, Sihaporas, huta Ompu Mamontang Laut.”



Bab VI – Kesetiaan yang Tak Tergoyahkan

Kondisi Sihaporas waktu itu jauh dari modern: rumah sopo kayu, tanpa kamar mandi, tanpa kemewahan. Mamak bisa saja mundur. Tetapi tidak. Ia memilih bertahan.

Inilah cinta sejati: bukan soal harta, bukan soal kenyamanan, melainkan soal janji dan kesetiaan.



Bab VII – Buah Cinta

Dari ikatan itu lahir 6 orang anak: 3 laki-laki dan 3 perempuan. 2 anak telah mendahului kami semua. Kini kami berempat (2 anak laki-laki dan 2 anak perempuan) akan tetap setia pada janji kedua orang tua kami kepada leluhur mereka Ompu Mamontang Laut. 

Kami anak-anak orang tua kami adalah buah kasih yang menghubungkan Tomok dan Sihaporas, dua dunia berbeda, dalam satu cinta.

Kekuatan Cinta Sejati akan mengalahkan segala kejahatan dan tipu muslihat yang akan mengancam keharmonisan dalam membangun kehidupan di Sihaporas.



Bab VIII – Kepergian Sang Pejuang

Tahun 2023, bapak berpulang. Upacara Saur Matua dilaksanakan di Tomok. Karena perjalanan panjang dari Canada, saya tiba hanya beberapa jam setelah upacara dimakamkan. Namun saya tetap sempat hadir di depan tugu, saat pintu kubur ditutup.

Hati saya hancur. Tetapi saya tahu, pesan bapak tetap hidup:

“Jangan lupa engkau Ambarita dari Sihaporas. Pusaka itu jangan pernah kau tinggalkan.”



Penutup 

Sihaporas: Luka atau Pusaka?

Banyak yang melihat Sihaporas sebagai luka: tempat penderitaan, kehilangan, dan air mata. Tetapi sesungguhnya, Sihaporas adalah pusaka: sumber kekuatan, harapan, dan cinta yang tidak akan habis dimakan waktu.

Kisah cinta boru Sidabalok dan marga Ambarita adalah bukti: cinta sejati melampaui larangan, penderitaan, dan perbedaan.

Sihaporas bukan luka. Sihaporas adalah pusaka.
Dan pusaka itu kini kita wariskan kepada seluruh pinompar Ompu Mamontang Laut.



No comments:

Post a Comment