Wednesday, October 1, 2025

Islam, PKI, dan Stigma Terorisme - Membongkar Manipulasi Sejarah dan Politik Global

 

Islam, PKI-Komunis, dan Stigma Terorisme "Membongkar Manipulasi Sejarah dan Politik Global"


Sejarah Indonesia pada pertengahan abad ke-20 tidak pernah lepas dari perdebatan tentang komunisme, Islam, dan demokrasi. Sosok Dipa Nusantara Aidit, Ketua Partai Komunis Indonesia (PKI), sering menjadi pusat kontroversi. Ia dikenal sebagai tokoh yang menjalin hubungan erat dengan Mao Zedong di Beijing, tetapi di dalam negeri dituduh berusaha merangkul kelompok-kelompok Islam, termasuk Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII).

Spekulasi berkembang bahwa Aidit berusaha menjebak PSII agar tampak mendukung PKI, sehingga dirinya tidak mudah dituduh sebagai pengkhianat terhadap kedaulatan bangsa dan konstitusi demokrasi. Strategi ini kemudian dibaca sebagai langkah politik berlapis, di satu sisi menutupi wajah radikal PKI, di sisi lain menempatkan Islam dalam posisi ambigu.

Isu ini masih relevan hari ini karena stigma politik yang lahir dari masa itu belum sepenuhnya hilang. Islam kerap diposisikan sebagai ancaman dengan sebutan terorisme, baik di tingkat nasional maupun internasional. Padahal, secara teologis, Islam berdiri di atas Tauhid, yaitu keyakinan pada keesaan Tuhan dan penolakan terhadap segala bentuk penyelewengan kekuasaan.



Aidit, Mao, dan Strategi Menjebak PSII

Aidit adalah tokoh PKI yang memilih jalur Tiongkok dibanding Uni Soviet. Hubungannya dengan Mao Zedong sangat erat, terutama karena Mao menawarkan strategi “United Front” koalisi antara komunis dengan kelompok lain demi tujuan politik bersama. Bagi Mao Zedong, komunisme tidak harus berhadapan frontal dengan semua kekuatan,  tapi bisa bersekutu sementara untuk memperkuat legitimasi.

Aidit mencoba mengadopsi pola ini di Indonesia. Ia menyadari bahwa PKI tidak bisa begitu saja melabrak konstitusi dan demokrasi Indonesia. Aidit beraksi sangat berhati-hati termasuk harus memperalat Syarikat Islam di Indonesia. Untuk menghindari tuduhan treason (pengkhianatan), Aidit mencari cara agar PKI tampak sejalan dengan partai-partai lain. PSII, sebagai representasi gerakan Islam politik, menjadi salah satu target pendekatan yang dilakukan Aidit.

Namun, banyak kalangan melihat ini bukan sekadar pendekatan, melainkan jebakan. Jika PSII bersimpati, PKI bisa mengklaim dukungan umat Islam. Jika PSII menolak, PKI bisa menggiring opini bahwa Islam tidak kooperatif terhadap demokrasi. Dengan kata lain, posisi Islam bisa dimanipulasi untuk keuntungan politik komunis. Partai Syarikat Islam dijadikan "SIBUAH MALAKAMA" oleh Aidit.

Jejak ini kemudian dibaca sebagai awal “balas dendam berlapis” dari simpatisan PKI. Walaupun partai itu dibubarkan secara resmi pasca-1965, semangatnya dianggap tetap hidup. Bukan lagi melalui agitasi terbuka, tetapi lewat strategi lain, yaitu dengan masuk ke arena politik formal, menembus aparatus negara, dan menguasai ruang ekonomi, bisnis, perbankan, bahkan sumber daya alam. Inilah yang membuat isu komunisme selalu kembali, meskipun wujudnya berbeda dengan masa lalu. Namanya "Neokomunis of Taipan" atau "The 9 Dragon Empire."



Orde Baru dan Stigma Politik Islam

Pasca-G30S 1965, rezim Orde Baru menempatkan PKI sebagai musuh utama bangsa. Semua narasi sejarah resmi diarahkan untuk menunjukkan bahaya laten komunisme. Namun pada saat yang sama, Islam politik juga tidak dibiarkan bebas.

Orde Baru curiga bahwa Islam bisa menjadi kekuatan oposisi jika tidak dikendalikan. Karena itu, rezim memberlakukan kebijakan ketat terhadap dakwah, ormas, bahkan partai politik Islam. Tujuannya jelas yaitu agar Islam tidak berkembang menjadi kekuatan politik alternatif yang bisa menandingi Golkar atau otoritas negara.

Dalam propaganda Orde Baru, ada dua musuh bangsa yaitu komunis dan Islam politik yang radikal. Mereka menambah istilah baru dalam Islam "Islam Radikal". Ini murni politik yang direkayasa karena Islam menjadi ancaman besar bagi Penerus Neo-komunis. Merekayasa bahwa Islam itu ada yang bisa diatur-atur dan yang tidak bisa dipengaruhi atau diatur-atur maka diberikan julukan sebagai "Islam Radikal". Bukankah Al-Quran adalah satu? Tidak ada Al-Quran Radikal. Begitupun Islam adalah Islam, tidak ada Islam Radikal di dalam Al-Quran. Tidak ada yang salah menyebut perkataan "Tauhid". Tauhid adalah Esa. Tauhid dalam Tuhan Yang Maha Esa adalah pemahaman inti dari keesaan Allah. Dalam Pancasila sila pertama, “Ketuhanan Yang Maha Esa,” konsepnya sejalan dengan Tauhid yaitu mengakui adanya Tuhan yang satu, yang menjadi dasar kehidupan bangsa. Bedanya, Pancasila tidak menyebut spesifik siapa Tuhan itu (inklusif untuk semua agama di Indonesia), sementara Islam menegaskan bahwa Tuhan Yang Maha Esa adalah Allah SWT. Jadi Mengapa orang Islam yang Menyebut Tauhid itu divonis sebagai Islam Radikal yang bermakna "teroris"???

Narasi ini membentuk persepsi publik bahwa agama bisa berbahaya jika dijadikan dasar politik. Stigma ini, meskipun tidak setajam terhadap PKI, menanamkan citra bahwa Islam harus selalu diawasi. Sekotor itu politik nasional kita juga dalam politik International yang memecah belah Islam.



Globalisasi Narasi “Islam Radikal adalah Terorisme”

Memasuki abad ke-21, stigma terhadap Islam mendapat suntikan baru. Peristiwa serangan 11 September 2001 (911) di Amerika Serikat menjadi titik balik. Media internasional dan pemerintah Barat mulai mengasosiasikan Islam Radikal secara langsung dengan terorisme.

Narasi ini cepat menyebar dan melekat. Kelompok-kelompok radikal seperti Al-Qaeda atau ISIS dijadikan bukti bahwa Islam identik dengan kekerasan. Padahal, jika ditelusuri, akar terorisme sangat beragam. Sebagai faktanya sejatinya teroris bersumber dari fasisme Eropa, separatisme sekuler, hingga gerakan ultranasionalis. Namun, hanya Islam yang dibingkai sebagai sumber utama ancaman global. Lagi-lagi inilah politik busuk.

Mengapa demikian? Karena narasi ini sangat menguntungkan bagi geopolitik. Dengan membangun citra Islam sebagai ancaman, negara-negara Barat bisa melegitimasi intervensi militer di Timur Tengah, membuka jalan bagi kontrol sumber daya energi, dan menekan kebangkitan politik dunia Muslim. Singkatnya, stigma terorisme berfungsi sebagai alat politik dan ekonomi, bukan cerminan ajaran Islam itu sendiri.



Islam sebagai Ajaran Tauhid

Dalam perspektif teologis, Islam berdiri di atas tauhid yang artinya God is One and Only One, None Others. Di dalam ajaran Judaisme juga mengakui Tuhan adalah Esa. Dalam ajaran  Jahudi disebut Echad dan dalam ajaran Islam disebut Tauhid. Sedangkan dalam ajaran Kristen juga mengakui Tuhan adalah Esa. Kristen mengajarkan bahwa Tuhan Adalah Pencemburu dan Hukum Taurat pertama dari 10 Hukum Taurat yang diajarkan dalam Kekristenan adalah "Akulah TUHAN, Allahmu, Jangan ada padamu ilah lain di hadapan-Ku". Artinya Allah itu Esa. Esa = Tauhid = Echad = Monotheis

Prinsip ini bukan hanya pengakuan iman, melainkan juga penegasan bahwa tidak ada otoritas selain Tuhan. Segala bentuk kekerasan, penindasan, dan manipulasi politik yang mengatasnamakan Islam bertentangan dengan semangat Tauhid.

Islam menekankan keadilan, kedamaian, dan penghormatan terhadap martabat manusia. Kekerasan hanya dibenarkan dalam konteks membela diri dari agresi, bukan sebagai strategi untuk menguasai atau menakuti. Karena itu, tindakan terorisme tidak bisa disebut sebagai bagian dari Islam. Tapi  justru adalah penyimpangan. Islam tidak boleh diselewengkan menjadi bagian dari "Aksi Teroris", terlepas ada sekelompok orang yang mengaku belajar agama Islam tapi menggabungkan diri dengan gerakan perusak kemanusiaan atau teroris. Bukan hanya agama Islam saja, begitu juga bagi orang yang belajar agama Kristen dan belajar agama Jahudi jika bergabung dengan gerakan perusak kemanusiaan bukan berarti Kristen atau Jahudi dijuluki "TERORIS". TIDAK ADA AGAMA YANG MENGAJARKAN TUHAN ADALAH ESA, TUHAN ADALAH ECHAD, TUHAN ADALAH TAUHID, DIJULUKI TERORIS. MERUPAKAN PENYIMPANGAN BESAR, & PENGHINAAN SECARA KEJI.

Sayangnya, manipulasi politik sering kali mengaburkan batas ini. Gerakan politik yang mengatasnamakan "Islam" kerap dikira sama dengan ajaran Islam itu sendiri. Padahal, yang satu adalah instrumen kekuasaan, sedangkan yang lain adalah agama yang mengajarkan tauhid. Inilah tugas intelektual kita agar bisa membedakan, meluruskan, dan mengingatkan publik.



Sejarah Indonesia menunjukkan betapa rapuhnya batas antara agama, politik, dan ideologi.  Manifesto nyata dari  Aksi Manipulasi Aidit, dengan segala manuvernya, berusaha menjebak Islam agar tampak mendukung PKI demi menutupi wajah radikal komunisme. Orde Baru, dengan propagandanya, menempatkan Islam dalam posisi serba salah, dijaga agar tidak melawan, tetapi juga dicurigai sebagai ancaman. Dan buah dari manipulasi Aidit ini terus-menerus menjadikan Islam terbelah, diadu domba dan memicu narasi-narasi kebencian terhadap beberapa umat Islam yang dianggap Radikal adalah teroris yang mengancam keselamatan bangsa dan negara. Jika seseorang atau sekelompok orang berlaku hianat atau melakukan kriminalisasi apakah Islam harus menanggungnya? Apa yang salah dengan Islam? Manusianya yang salah, Mengapa harus Islam yang membayar kesalahan itu. 

Di tingkat global pun, stigma Islam sebagai terorisme tumbuh menjadi narasi geopolitik yang menguntungkan pihak tertentu. Padahal, Islam sejati adalah agama tauhid, agama yang menegaskan keesaan Tuhan dan menolak kekerasan sebagai jalan hidup.

Maka, melawan stigma ini bukan sekadar tugas umat Islam, tetapi tugas semua orang yang peduli pada KEMANUSIAAN, KEBENARAN SEJARAH & KEADILAN. Kita perlu membaca ulang sejarah dengan kritis, membongkar manipulasi politik, dan menegaskan kembali bahwa Islam tidak identik dengan terorisme. Islam adalah ajaran tauhid, dan tauhid berarti keesaan Tuhan serta martabat manusia yang tak bisa dikompromikan.




(Ditulis oleh: Ellis Ambarita)



Daftar Pustaka (APA Style)

Crouch, H. (1978). The army and politics in Indonesia. Cornell University Press.

Fealy, G., & Hooker, V. (2006). Voices of Islam in Southeast Asia. ISEAS.

Hefner, R. W. (2000). Civil Islam: Muslims and democratization in Indonesia. Princeton University Press.

Mamdani, M. (2004). Good Muslim, bad Muslim: America, the Cold War, and the roots of terror. Pantheon Books.

Mortimer, R. (1974). Indonesian communism under Sukarno: Ideology and politics, 1959–1965. Cornell University Press.

Ricklefs, M. C. (2001). A history of modern Indonesia since c.1200 (3rd ed.). Stanford University Press.

Said, E. W. (1978). Orientalism. Pantheon Books.



Bacaan dan Referensi

  1. Crouch, H. (1978). The Army and Politics in Indonesia. Ithaca: Cornell University Press.
    → Menjelaskan peran militer dan PKI dalam dinamika politik 1960-an.

  2. Mortimer, R. (1974). Indonesian Communism under Sukarno: Ideology and Politics, 1959–1965. Ithaca: Cornell University Press.
    → Uraian detail mengenai strategi Aidit, hubungan PKI dengan Beijing, dan manuver politik PKI.

  3. Fealy, G., & Hooker, V. (2006). Voices of Islam in Southeast Asia. Singapore: ISEAS.
    → Membahas keragaman politik Islam di Asia Tenggara, termasuk relasi dengan negara.

  4. Hefner, R. W. (2000). Civil Islam: Muslims and Democratization in Indonesia. Princeton: Princeton University Press.
    → Mengulas bagaimana Orde Baru mengekang Islam politik dan upaya Islam beradaptasi dengan demokrasi.

  5. Said, E. (1978). Orientalism. New York: Pantheon Books.
    → Referensi penting untuk memahami bagaimana Barat membingkai Islam sebagai “yang lain”, termasuk dalam isu terorisme.

  6. Mamdani, M. (2004). Good Muslim, Bad Muslim: America, the Cold War, and the Roots of Terror. New York: Pantheon Books.
    → Membongkar konstruksi narasi “Islam = teroris” dalam politik global pasca-Perang Dingin dan pasca-9/11.

  7. Ricklefs, M. C. (2001). A History of Modern Indonesia since c.1200. Stanford: Stanford University Press.
    → Menyediakan konteks sejarah panjang hubungan Islam, nasionalisme, dan komunisme di Indonesia.




No comments:

Post a Comment