Hari Aku Menemukan Diriku
"Cita -cita dan pilihan hidup yang akan aku tempuh."
Marathon, 1994
Beberapa momen bukan sekadar kenangan, mereka adalah titik balik, seperti arus sungai yang mengubah arah perahu tanpa kita sadari.
Momen yang meninggalkan jejak begitu dalam, hingga setiap langkah kita berikutnya seolah menelusuri kembali jejak itu.
Bagi saya, momen itu terjadi pada tahun 1994, di tepi Danau Toba yang tenang, seperti cermin biru yang memantulkan langit dan masa depan.
Tahun 1994 itu, saya berdiri di antara para atlet terbaik di seluruh negeri, mengikuti lomba marathon nasional dan balap sepeda 50 kilometer dalam Festival Danau Toba. Acara itu diselenggarakan oleh Menteri Olahraga, Menteri Pariwisata, dan Gubernur Sumatera Utara.
Saya menyeberangi garis finis di posisi kedua bukan sekadar kemenangan, tetapi sebuah pengakuan atas keberanian dan ketekunan. Saya menerima piagam penghargaan, medali, dan hadiah uang lima juta rupiah, yang pada saat itu adalah jumlah yang signifikan, setara tiga puluh enam juta rupiah hari ini.
Tak lama kemudian, Menteri Olahraga mengundang saya untuk mewakili Sumatera Utara di Pekan Olahraga Nasional (PON), lengkap dengan beasiswa dan jaminan sekolah di Surabaya. Masa depan yang telah tertata rapi, menunggu untuk saya jalani.
Namun, saya menolaknya.
Bukan karena saya tidak menghargai kesempatan itu.
Bukan karena saya takut.
Tetapi karena hati saya berbisik: Jalan ini bukan untukmu.
Orang tua saya, bapak dan ibu, menghormati keputusan itu.
Mereka memahami bahwa panggilan hati kadang lebih penting daripada jalur yang terlihat aman dan pasti.
Bertahun-tahun kemudian, setiap kali saya mengenang hari itu, saya tersenyum.
Hari itu lebih dari sekadar lomba itu adalah saat saya menemukan siapa saya dan tujuan hidup saya.
Hidup, saya pelajari, bukan hanya tentang menang atau kalah.
Hidup adalah mendengarkan suara terdalam dalam diri kita dan berani menapaki jalan yang dipanggilnya.
Lomba itu mengajarkan saya bahwa setiap pengalaman bahkan yang kita tinggalkan menjadi bagian dari rasa kehidupan, seperti rintik hujan yang memberi kehidupan pada bumi.
Itu memberi saya keberanian untuk mengikuti panggilan hati, bukan menuju hidup yang ditentukan oleh medali atau podium, tetapi menuju hidup yang didedikasikan bagi kemanusiaan.
Apa pun yang saya miliki pengalaman, pengetahuan, kekuatan, bahkan luka-luka masa lalu saya pilih untuk menjadikannya jembatan.
Jembatan yang menghubungkan luka dengan penyembuhan, keputusasaan dengan harapan, dan diri saya dengan dunia.
Tahun 1994 mengubah saya selamanya.
Saya menemukan diri saya di tengah keringat lomba, panasnya kayuhan sepeda, dan detak jantung yang bergemuruh.
Di tepi Danau Toba yang tenang, saya berlari dan mengayuh sepeda 50 kilometer.
Saya bukan hanya mengejar garis finis saya mengejar diri saya sendiri.
Dan saya menang.
Saya ingat berlari memberi tahu bapak tentang kemenangan saya, dengan kegembiraan murni seperti anak kecil.
Beliau begitu bangga hingga mengajak saya naik mobil Toyota Land Cruiser Hardtop kesayangannya, sirene berbunyi, seolah seluruh kampung harus tahu bahwa putrinya telah membawa kehormatan bagi nama mereka.
Tanpa saya sadari, saya telah mengukir nama saya dalam ingatan kampung halaman kami.
Di podium nasional, saya berdiri bukan sekadar sebagai juara kedua, tetapi sebagai seseorang yang telah memilih takdirnya sendiri.
Pilihan itu menjadi langkah pertama menuju kehidupan yang saya jalani sekarang.........
Tahun 1999 saya menjalani karir saya menjadi Seaman di luar negeri meinggalkan tanah air kelahiran saya dan setelah itu saya merantau ke Cina.. Tepatnya saya memulai hidup baru di Cina. Di Cina jugalah saya bertemu dengan suami saya, ayah dari 3 anak-anak kami.
Saya mengalir mengikuti arah kemana karir saya membawa saya dan tetap berjalan meyakini kehidupan yang dipandu oleh tujuan, pengabdian, dan tekad tanpa henti untuk membuat dunia ini sedikit lebih baik.
Saya bukan hanya penyandang status istri, pengusaha, ibu bagi ketiga anak-anak kami. Namun dengan menjalani itu semua panggilan hati saya tidak luput yaitu kemanusiaan.
Ditulis oleh:
Ellis Ambarita
No comments:
Post a Comment