Saturday, September 13, 2025

Momen & Jejak yang Tak Pernah Hilang sejak 1994

Flashback Perjalanan Hidup

Tahun 1994 adalah salah satu titik penting dalam hidup saya. Saat itu, saya berhasil memenangkan Kompetisi Nasional se-Indonesia dalam lomba marathon dan balap sepeda 50 km pada perayaan Pesta Danau Toba 1994. Acara itu diselenggarakan oleh Menteri Olahraga, Menteri Pariwisata, dan Gubernur Sumatera Utara. Saya meraih juara 2 tingkat nasional, sementara juara 1 diraih oleh atlet dari Sulawesi.

Saya memenangkan Piagam Penghargaan dan medali serta uang senilai 5 juta rupiah. Pada masa itu 5 juta Rupiah dan sekarang nilainya setara sekitar 36 juta rupiah.

Selain itu, sebagai bentuk apresiasi, Menteri Olahraga memberikan saya undangan untuk mengikuti PON sebagai perwakilan Sumatera Utara, lengkap dengan tawaran beasiswa dan jaminan sekolah di Surabaya. Namun, saya menolak kesempatan itu bukan karena saya tidak menghargainya, tetapi karena saya tahu cita-cita saya bukan di sana.

Kini, saat saya mengingat kembali momen itu, saya menyadari bahwa setiap pengalaman, bahkan yang kita tinggalkan di masa lalu, adalah bagian dari bumbu kehidupan. Kemenangan itu bukan sekadar prestasi, tetapi pengingat bahwa kita pernah berjuang, pernah menang, dan mampu memilih jalan kita sendiri.

Panggilan hidup saya adalah terlibat dalam lingkup kemanusiaan. Apa pun yang saya miliki pengalaman, pengetahuan, dan kemampuan  saya ingin memakainya sebagai alat, sebagai jembatan untuk memperbaiki kemanusiaan di dunia tempat kita dilahirkan. Disitulah panggilan yang merasuk di hati saya. 

Saya menjadi orang yang berbeda sejak tahun 1994. Saya menemukan diri saya saat kompetisi itu yang menjadi "Momen & Jejak yang Tak Pernah Hilang".

Di tepi Danau Toba yang tenang, saya berlari dan mengayuh sepeda sejauh 50 km. Hari itu, saya bukan hanya mengejar garis finis  saya mengejar diri saya sendiri.
Dan saya menang. Walau meraih juara 2 tetapi saya berhasil menempuh garis finish.

Dengan sangat gembira seperti seorang anak kecil, saya memberitahu bapak saya atas kemenangan yang saya raih. Dengan bahagia bapak saya mengatakan betapa beliau bangga pada saya. Beliau mengajak saya naik ke mobil Hard Top nya Toyota Land Cruiser kesayangannya sambil membunyikan sirene mobil dan seakan-akan suara sirene ini mengumumkan bahwa putrinya berhasil meraih sesuatu yang sangat berharga, membuat beliau sangat terharu pada putrinya tanpa sepengetahuannya saya mencetak nama yang harum untuk kampung kami. 

Saya berdiri di podium nasional, juara 2 se-Indonesia. Menteri Olahraga, Menteri Pariwisata, dan Gubernur Sumatera Utara hadir, memberi penghargaan. Bahkan saya mendapat undangan resmi untuk ikut PON, mewakili Sumatera Utara. Ada tawaran beasiswa, jaminan sekolah, masa depan yang sudah digariskan.

Namun, saya menolaknya.
Bukan karena saya meremehkan kesempatan itu, melainkan karena hati saya berkata: jalan hidupku bukan di sana.

Kini, bertahun-tahun kemudian, saya tersenyum setiap kali mengingat hari itu. Saya belajar bahwa hidup bukan sekadar soal menang atau kalah, tapi soal mengenali panggilan terdalam kita.
Setiap pengalaman  bahkan yang kita tinggalkan di masa lalu  adalah bumbu yang memberi rasa pada kehidupan.

Panggilan saya adalah kemanusiaan.
Apa pun yang saya miliki, pengalaman, pengetahuan, tenaga, bahkan luka-luka masa lalu  semuanya saya jadikan jembatan.
Jembatan untuk memperbaiki, menyembuhkan, dan memberi harapan bagi dunia tempat kita dilahirkan.

Integritas Adalah Capital Saya.

Saya adalah seseorang yang dibentuk oleh integritas dan pengalaman hidup.
Sejak 1994 itu, saya memilih jalan hidup yang berani: menjelajahi dunia, menjadi pelaut, mengenal banyak budaya, terlibat dalam filantropi, dan membangun kewirausahaan yang berakar pada pembangunan komunitas berkelanjutan.

Saya berdiri sebagai aktivis lingkungan dan pemegang lisensi Environmental Legal Compliance and Management, berjuang untuk menjaga bumi dari kerusakan dan memastikan generasi mendatang memiliki masa depan.

Saya menulis, berbagi gagasan, dan menggerakkan orang lain melalui media sosial, karena saya percaya perubahan dimulai dari kesadaran.

Hidup saya adalah komitmen:

  • Integritas sebagai pondasi.

  • Pelestarian lingkungan sebagai misi.

  • Kemanusiaan sebagai tujuan akhir.



=================================

Mengenang dengan Kasih
Untuk Ayah Tercinta,
Daulat Hasudungan Ambarita


Ditulis oleh:

Ellis Ambarita


https://manusiaintegritas.blogspot.com/2025/10/agrarian-crimes-in-indonesia-how-state.html


No comments:

Post a Comment