Indonesia Negeriku yang Mempesona, Tapi Menguji Jiwa
Oleh: Ellis Ambarita
(Berdasarkan pengalaman pribadi)
Informasi yang saya miliki tentang Indonesia mahal harganya. Mahal bukan hanya secara materi, tetapi juga secara batin. Setiap potongan informasi itu saya peroleh dengan pengorbanan waktu, tenaga, logistik, dan ketajaman berpikir yang saya curahkan dalam proses riset dan pencarian keadilan.
Namun saya berbagi ini bukan karena saya mencari simpati. Ini adalah bentuk solidaritas saya, pribadi, kepada negeriku Indonesia.
Saya memang telah diperlakukan sangat tidak adil selama puluhan tahun mencari kepastian hukum di tanah air. Tapi saya tidak bisa menutup mata, hati, dan pikiran. Karena mungkin inilah jodoh saya "terlahir sebagai boru Batak di Indonesia", merasakan tawa dan tangis di negeri yang sama, dan membawa luka itu ke mana pun saya pergi.
Saya telah merasakan getirnya penderitaan rakyat Indonesia, mungkin dengan cara yang lebih brutal dari apa yang dibayangkan orang lain. Aniaya yang dilakukan secara terstruktur itu bukan hanya melukai tubuh, tetapi juga meremas spirit dan intelektualitas kita sampai remuk.
Indonesia adalah negeri yang mempesona. Semua mata dunia melirik jika berkunjung ke sini.
Tetapi bagi mereka yang memilih menetap dan berjuang di dalamnya, ada harga jiwa yang harus dibayar mahal.
Pengalaman pahit terakhir saya, harus memaksa saya meninggalkan tanah air. Perjuangan saya mencari kepastian hukum harus berhenti. Tetapi setelah saya pergi, hati saya tetap tertambat. Bukan hanya karena pengalaman getir, tetapi karena ada ikatan batin yang tak dapat dijelaskan dengan kata-kata.
Pada masa-masa perjalanan itu, saya bertemu banyak orang.
Konglomerat elit oligarki, politisi dengan nama besar, pejabat tinggi negara. Saya pernah duduk bersama mereka, makan dan minum bersama mereka. Saya juga duduk bersama pengamen dan pemulung di pinggiran Jakarta. Berkunjung dan melakukan aktifitas sosial ke daerah-daerah terpencil yang tertinggal.
Dan saya menyadari satu hal, mereka semua sama. Kaya, elit, pejabat tinggi, orang yang tinggal di daerah terpencil, oran-orang pengamen, anak-anak jalanan dan bahkan saya semuanya sama. Kita semua sama.
Kami semua butuh makan. Butuh minum. Butuh pakaian. Butuh tempat tinggal. Dan kami semua punya cita-cita.
Memang, cita-cita itu berbeda-beda. Tetapi yang paling menentukan adalah mekanisme mencapainya. Di situlah perbedaan muncul. Bahkan perpecahan di antara kita semua mulai muncul karena perbedaan cara mencapai cita-cita itu. Di situlah integritas kita dipertaruhkan.
Saya percaya, itulah kodrat manusia... Dimana kita semua diberi kebebasan untuk memilih jalan kita. Tidak ada yang benar-benar berbeda antara orang kaya atau miskin, penguasa atau rakyat jelata. Yang membedakan hanyalah satu, yaitu sikap kita dalam mengejar cita-cita itu.
Dan mungkin, di situlah letak persoalan Indonesia.
Kita belum benar-benar mendidik diri kita sebagai bangsa untuk mengejar cita-cita dengan cara yang jujur, adil, dan bermartabat.
Saya tidak dendam kepada pemerintah dan para koruptor yang menjembatani ketidakadilan terjadi pada saya.
Saya melalui semua cobaan itu dengan harapan, kelak orang-orang itu menyadari bahwa hidup ini terlalu indah untuk disia-siakan. Hidup terlalu singkat untuk dihabiskan dengan menumpuk kebaikan sekaligus kejahatan kepada sesama. Hidup ini hanya perlu dijalani dengan kesadaran, dan disyukuri.
Namun di sisi lain, hidup juga menuntut kita untuk bertindak demi kebenaran.
Kebenaran adalah hadiah terindah pelipur lara yang menenangkan hati.
Kebenaran adalah obat yang melegakan dahaga yang tak pernah terpuaskan.
Kebenaran adalah kasih yang tak terlupakan oleh manusia.
Kebenaran adalah cahaya yang takkan pernah padam.
Jangan pernah menyerah untuk perkatakan menjadi pelaku akan Kebenaran itu.
No comments:
Post a Comment