Sunday, July 27, 2025

“Tetap Hidup, Tetap Bersuara”

Masih Hidup, Masih Bersuara: Memoar tentang 3.050 Hektare Tanah, Pengkhianatan, dan Perlawanan



♦️Perang Tanpa Batas,  Kesaksian Pribadi tentang Hak atas Tanah, Kriminalisasi, dan Perlawanan di Indonesia (2007–2017)♦️


Tiga ribu lima puluh hektare tanah  atau 7.537 acre  di Putat, Rokan Hilir, Riau, Indonesia adalah milik sah PT. Ria Estella.
“Miliaran dolar AS dibakar dan dijarah.”



Kata Pengantar

Saya menulis memoar ini bukan untuk meratapi penderitaan atau mencari belas kasihan. Saya menulis untuk menyatakan bahwa saya masih hidup meskipun mereka ingin saya mati. Saya masih berdiri  meskipun mereka ingin saya roboh.

Perjalanan ini penuh luka, tapi juga penuh pelajaran. Saya tahu bahwa perjuangan saya hanyalah sebagian kecil dari kisah besar yang jauh lebih rumit dan berat. Di seluruh nusantara, masih banyak suara yang terbungkam, masih banyak kebenaran yang tersembunyi di balik bayang-bayang kekuasaan.

Tetapi saya percaya, selama ada yang berani bersuara, selama ada yang berani melawan, ada harapan bagi negeri ini. Perjuangan tidak akan pernah sia-sia, karena setiap langkah kecil menuntun pada perubahan yang lebih besar.

Memoar ini adalah suara saya, suara seorang perempuan yang tidak pernah menyerah. Suara itu saya persembahkan untuk mereka yang kehilangan suara, untuk mereka yang terluka, dan untuk mereka yang masih berjuang di jalan yang sama.

Mari kita jaga suara kebenaran agar tetap hidup. Karena ketika suara itu hilang, maka kegelapan akan menguasai negeri.

Dan saya memilih hidup dalam terang, meskipun jalannya penuh rintangan.


Daftar Isi

Bab 1: Aku Adalah Saksi
Bab 2: Melawan di Tanah Sendiri
Bab 3: Teror dan Sunyi
Bab 4: Aku, Perempuan dan Ancaman
Bab 5: Rakyat Melawan Konglomerat
Bab 6: Ketika Negara Tak Hadir
Bab 7: Warisan dan Harapan — Pesan untuk Generasi Mendatang
Bab 8: Awal Baru — Harapan Baru di Negeri Barat - Canada



Bab 1: Diburu oleh Bayangan, Dikhianati oleh Negeri Sendiri

Setiap manusia punya luka. Tapi tak semua luka terlihat. Ada luka yang disembunyikan di balik senyum, ada juga yang dikubur dalam-dalam oleh sistem yang tak pernah berpihak. Ini kisah saya—bukan fiksi, bukan drama, tapi realita kelam dari tanah air yang seharusnya melindungi, namun justru menelanjangi.

Beberapa tahun lalu, hidup saya berubah drastis. Dimulai dari sebuah konflik agraria yang melibatkan lahan seluas 3.050 hektar milik PT Ria Estella di kawasan Putat, Rokan Hilir, Riau. Sebuah lahan sah yang kemudian direbut secara paksa oleh aktor-aktor berkedok petani, namun sesungguhnya adalah alat para mafia tanah.

Awalnya saya pikir ini hanya sengketa biasa. Namun saya salah. Ini bukan sekadar urusan hak atas tanah ini tentang kekuasaan, konspirasi, dan permainan hidup-mati. Saya dikepung. Fitnah disebar dari segala penjuru, reputasi saya dihancurkan, hingga kehidupan pribadi saya pun diganggu. Saya diikuti, diteror, bahkan ada percobaan pembunuhan yang nyaris membuat saya tak bernyawa.

Bayangkan, dalam tempo satu tahun, saya terpaksa pindah tempat tinggal lebih dari tiga belas apartemen di Jakarta demi menyelamatkan diri dari kejaran “tangan tak terlihat.” Barang-barang aneh dikirim ke tempat tinggal saya sebuah pesan diam yang menebar ancaman. Laporan-laporan saya ke kepolisian hanya dianggap angin lalu. Tak satu pun ditindak.

Satu demi satu pejabat yang mencoba menjembatani penyelesaian konflik ini meninggal dunia secara misterius. Kepala dinas yang mendampingi kami, meninggal mendadak tanpa sebab jelas. Beberapa kadis lainnya di Pemkab Rohil juga mengalami nasib serupa. Semua terjadi saat kami tengah memperjuangkan keadilan di jalur hukum.

Ancaman tidak hanya datang pada saya. Seorang petugas AMDAL yang menolak suap miliaran rupiah dipaksa mundur karena jiwanya terancam. Para penegak hukum yang sempat berdiri di sisi kami, satu per satu diam. Beberapa didatangi oleh aktor intelektual dari balik layar, salah satunya seorang dosen yang mengklaim sebagai “pahlawan tani” dan kini menjadi tokoh di organisasi Apkasindo. Ia menelepon jaksa yang telah kami ajak kerja sama, lalu menyebar kebohongan bahwa saya gila, terlantar, bahkan dikabarkan telah ditinggal suami yang kabur ke luar negeri. Semuanya adalah karangan busuk untuk membunuh karakter saya.

Lebih jauh lagi, istri si dosen ternyata berasal dari Samosir, seperti beberapa aktor pendukung lainnya. Mereka membentuk jaringan kecil namun berbahaya, mengatur langkah demi langkah untuk menyingkirkan saya dari peta perlawanan. Bahkan ada indikasi bahwa mereka telah merencanakan pembunuhan terhadap saya dengan racun. Mereka menargetkan saya bukan hanya karena tanah, tapi karena saya menolak tunduk, menolak menyerah.

Indonesia terlalu diam. Negara terlalu sibuk menenangkan investor dan oligarki, hingga melupakan tangis rakyat kecil yang melawan. Saya tak tahu sampai kapan saya bisa menulis seperti ini. Tapi satu yang pasti: saya akan terus bersuara, meski suara saya adalah satu-satunya yang tersisa.


Bab 2: Surat, Seruan, dan Sunyi dari Aparat Negeri

Saya tidak menyerah hanya karena diteror. Setelah berbagai ancaman dan fitnah datang bertubi-tubi, saya mengambil langkah yang paling rasional dan legal melapor ke aparat penegak hukum.

Saya mendatangi Polsek, Polres, Polda, bahkan saya sampaikan tembusan resmi ke Mabes Polri. Saya tidak datang hanya dengan keluhan, tetapi dengan bukti lengkap, dokumen kepemilikan lahan yang sah, serta rekaman dan kronologi kejahatan yang dilakukan di atas lahan PT Ria Estella. Di sana bukan hanya terjadi perampasan lahan, tapi juga tindak ilegal logging besar-besaran yang dilakukan oleh para mafia tanah berkedok petani.

Namun, yang saya temui bukan keadilan. Saya bertemu ketakutan.

Petugas di lapangan menunduk, saling melempar wewenang, atau mendadak bungkam setelah beberapa waktu. Ada yang awalnya berani menyatakan dukungan, namun tiba-tiba tidak bisa dihubungi. Seolah-olah semua yang saya perjuangkan masuk ke dalam lorong gelap tanpa gema.

Saya juga tidak tinggal diam di tingkat pusat. Saya membawa kasus ini ke meja audiensi Kementerian Pertanian. Saya berharap ada terobosan, atau paling tidak, perlindungan hukum bagi investasi legal dan sah yang telah dijalankan sesuai aturan negara. Tapi yang saya lihat bukan perlindungan. Yang saya temukan hanyalah ketakutan dan keraguan. Para pejabat kementerian yang seharusnya menjadi benteng hukum dan kedaulatan agraria negara malah terlihat canggung. Mereka berbicara berputar-putar, dan saya bisa membaca isyarat: mereka sedang diawasi. Mereka takut menyinggung kekuatan besar.

Siapa yang mereka takuti? Itulah pertanyaan yang selalu muncul. Saya melihat sendiri bagaimana mafia tanah dan jaringan ilegal logging memiliki kekuasaan diam-diam. Mereka bisa mengakses informasi strategis, memutarbalikkan narasi hukum, bahkan memengaruhi aparat dan pejabat negara. Mereka bukan preman jalanan. Mereka adalah bagian dari jaringan kekuasaan yang lebih besar oligarki tanah yang melibatkan orang-orang dengan gelar, jabatan, dan koneksi dalam sistem pemerintahan.

Sementara itu, kerusakan hutan terus terjadi. Kayu-kayu hasil pembalakan liar dijual tanpa izin, merusak lingkungan, mengeringkan sumber air, dan merampas ruang hidup masyarakat lokal. Ironisnya, yang dituduh mencemari, yang difitnah ilegal, justru adalah pihak yang mencoba mempertahankan lahan secara sah sesuai izin usaha dan ketentuan lingkungan.

Negara hadir, tetapi tidak berpihak. Dalam setiap proses hukum yang kami ikuti, mafia selalu satu langkah lebih depan. Mereka menyusup ke institusi, mengatur arah media, bahkan mencoba membungkam kami lewat jalur akademik dan sosial.

Saya ingat salah satu rapat dengan perwakilan Kementan. Saat saya mempresentasikan semua bukti, suasana ruangan mendadak hening. Tak satu pun berani membuat keputusan. Saya bukan meminta belas kasihan, saya menuntut keadilan berdasarkan fakta. Tapi tampaknya, keadilan kini harus antre dan antreannya dikuasai oleh pemilik modal oligargy Taipan.

Saya keluar dari ruangan itu dengan perasaan getir. Ketika kementerian takut pada mafia, maka negara telah kehilangan keberaniannya.


Bab 3: Dari Sunyi ke Sorot Publik

Setelah menyusuri lorong-lorong institusi resmi negara, saya mulai sadar: di dalam sistem, keadilan sulit ditemukan. Bukan karena hukum tidak ada, tetapi karena hukum tidak dijalankan. Bukan karena aparat tidak tahu, tetapi karena banyak yang takut, terikat, atau sudah disusupi.

Saya tidak bisa lagi mengandalkan prosedur formal semata. Maka saya memutuskan satu hal penting: membuka semua ini ke publik.

Saya mulai dengan menyusun laporan kronologis, bukti surat izin, rekaman pembalakan liar, dokumen legal pendirian perusahaan, dan semua bentuk intimidasi yang saya alami. Saya kirimkan ke berbagai media. Ada yang menolak menulis. Ada yang bilang ini sensitif. Tapi ada juga yang bersedia menerbitkan. Itulah celah pertama yang membuka tabir sunyi ini kepada masyarakat luas.

Saya lalu mendatangi anggota DPR khususnya yang duduk di Komisi II dan IV yang membidangi pertanahan dan pertanian. Beberapa menerima saya secara diam-diam. Mereka membaca laporan saya dengan serius, tetapi mayoritas mengatakan dengan jujur bahwa mereka tidak bisa berbuat banyak. Ada tekanan, ada arahan, dan ada kekuatan tak kasat mata yang mengatur arah politik pertanahan di republik ini.

Salah seorang staf ahli DPR bahkan berkata, “Kalian jangan main di wilayah yang menyangkut investasi para taipan dan kroni. Negara kita ini tidak sepenuhnya merdeka, Bu.”

Kalimat itu mengendap di benak saya. Saya sadar, perjuangan ini bukan hanya soal sengketa lahan. Ini adalah soal kedaulatan. Soal apakah Indonesia masih bisa melindungi rakyat dan hukum dari kekuasaan uang.

Maka saya pun menyusun laporan baru. Saya kirimkan ke Komnas HAM, Ombudsman, bahkan ke beberapa organisasi internasional seperti Human Rights Watch dan Global Witness. Saya tahu ini langkah panjang, bahkan bisa berisiko. Tapi kalau negara sendiri tidak bisa menegakkan hukum, maka publik internasional perlu tahu bagaimana hukum bisa dibajak oleh mafia tanah di negeri yang katanya demokratis ini.

Saya juga aktif mengedukasi masyarakat lokal. Saya kumpulkan petani, tokoh adat, warga desa yang terlibat atau menjadi korban manipulasi. Saya ajarkan mereka tentang apa itu HGU, apa itu kejahatan lingkungan, dan bagaimana membaca hak konstitusional mereka sendiri. Saya bukan hanya melindungi lahan perusahaan, saya mencoba menghidupkan kembali kesadaran bahwa rakyat kecil tidak harus tunduk pada kekuatan yang mengaku legal tapi bekerja secara kriminal.

Saya tahu banyak yang memperhatikan langkah saya. Ada yang mengintai dari jauh. Ada yang mencoba mendekati lewat orang dalam, bahkan lewat kerabat keluarga.

 Ada yang kembali menawarkan kompromi. Tapi saya sudah lewat dari titik tawar. Yang saya perjuangkan bukan hanya tanah, tapi prinsip.

Dan prinsip itu adalah: bahwa negara ini tidak boleh tunduk pada kekuasaan yang bersembunyi di balik izin, tetapi bekerja melawan hukum.

Di tengah perjalanan ini, saya mulai menyusun narasi untuk generasi mendatang. Saya ingin kisah ini bukan sekadar laporan kasus. Saya ingin ini menjadi memoar perlawanan. Bukti bahwa ketika semua lembaga diam, suara kebenaran tidak boleh ikut bungkam.



Bab 4: Saat Perang Tak Berbatas dalam Kriminalisasi dan Teror

Ketika suara saya mulai didengar, dan gelombang perlawanan mulai terbentuk, musuh-musuh saya semakin gencar menyerang balik. Mereka tahu, menghancurkan karakter saya lebih mudah daripada mengalahkan kebenaran yang saya bawa.

Saya menjadi target kriminalisasi. Tuduhan palsu berhamburan seperti hujan deras. Ada laporan bahwa saya “gila,” “tidak waras,” “tidak mampu mengurus diri sendiri,” bahkan sampai rumor bahwa saya telah “diceraikan dan ditinggalkan suami dan anak-anak yang kabur ke luar negeri.” Semua itu disusun rapi oleh jaringan mereka, termasuk seorang dosen yang dianggap sebagai pahlawan tani, kini berubah menjadi alat propaganda busuk mereka. Percobaan pembunuhan di Bandara Kuala Lumpur saat saya mengadakan perjalanan ke Bali, lalu di Bandara Ngurah Rai Denpasar saya dan adik saya diteror. Tapi kami berhasil menyelematkan diri dari ancaman teror itu dengan cara menyusup ke rombongan turis mancanegara yang kebetulan baru tiba di Bandara dari destinasi Eropa. Kelompok bayaran mafia itupun kehilangan jejak kami.

Saya juga mengalami serangan psikologis yang sangat berat. Setiap langkah saya dipantau. Saya diteror dengan ancaman lewat telepon dan pesan singkat. Paket-paket mencurigakan yang dikirim ke apartemen saya membuat saya harus waspada setiap saat. Saya terpaksa berpindah tempat tinggal lebih dari 13 kali dalam satu tahun untuk menghindari mereka yang ingin membunuh saya.

Tidak hanya itu, mereka juga menyusup ke dalam jaringan saya. Beberapa orang yang saya percayai tiba-tiba berubah sikap, seolah takut atau bahkan bersekongkol. Ada tekanan hebat dari kelompok yang mengaku sebagai “pembela adat” dan “pejuang petani,” padahal kenyataannya mereka adalah kaki tangan mafia tanah yang ingin menguasai lahan dengan segala cara.

Salah satu hal paling mengerikan adalah rencana pembunuhan yang saya ketahui lewat informasi dari sumber terpercaya. Ada usaha untuk menghilangkan nyawa saya menggunakan racun atau "putas" mematikan — bahan berbahaya yang tidak tercium dan sulit dideteksi. Istri dari salah satu aktor utama dalam konflik ini, yang juga berasal dari Samosir yang memiliki hubungan dekat dengan kerabat saya, memimpin kelompok yang merekrut para pemuda untuk melaksanakan rencana ini.

Di tengah semua ini, saya merasa seperti sedang berperang tanpa batas. Bukan hanya melawan orang-orang yang ingin mengambil tanah saya, tapi juga melawan sistem yang membiarkan kejahatan ini berlangsung. Polisi yang seharusnya melindungi, lebih sering acuh tak acuh atau bahkan ikut mengintimidasi saya. Pejabat pemerintah yang harusnya menjamin keadilan, malah diam dan memilih tidak berani bertindak.

Namun saya tetap bertahan. Saya tahu betul bahwa menyerah bukan pilihan. Meskipun ancaman itu nyata, saya menolak mundur. Perjuangan ini bukan lagi hanya tentang saya, tapi tentang kebenaran yang lebih besar—tentang hak atas tanah, tentang keadilan yang harus ditegakkan, dan tentang keberanian melawan tirani.

Di tengah teror yang terus mengintai, saya menemukan kekuatan dari dalam diri dan dukungan dari beberapa orang yang masih percaya pada kebenaran. Mereka adalah cahaya kecil di lorong gelap yang saya lalui.



Bab 5: Cahaya di Tengah Gelap  "Solidaritas dan Ketahanan"

Dalam kegelapan yang paling pekat, saya menemukan secercah cahaya dari orang-orang yang tak pernah menyerah pada kebenaran. Mereka bukan banyak, tapi keberadaan mereka sangat berarti. Dari mereka, saya belajar bahwa perjuangan bukan hanya soal menghadapi musuh, tapi juga soal membangun kekuatan dari kebersamaan.

Di tengah serangan psikologis dan fisik yang terus berlangsung, saya mulai merajut jaringan solidaritas. Teman-teman lama, aktivis lingkungan, tokoh masyarakat yang masih percaya pada keadilan, dan sejumlah kecil aparat yang berani berdiri di sisi saya, memberikan energi baru. Mereka datang dengan berbagai cara: dukungan moral, pendampingan hukum, bahkan pengawalan ketika saya harus menghadiri pertemuan penting. Salah satunya adalah seorang Pejuang dari TNI yang berlatar belakang prajurit tempur saat perang konflik terjadi di Timtim dan kini mengemban profesi di Pertahanan Negara. 

Masyarakat lokal yang dulu terpecah mulai menyadari apa yang sebenarnya terjadi di balik drama sengketa lahan ini. Saya bersama mereka menggelar pertemuan, diskusi kecil di desa-desa, mengedukasi tentang hak-hak agraria, dan pentingnya menjaga lingkungan. Kekuatan kolektif ini mulai membentuk benteng perlindungan sosial yang sulit ditembus oleh kelompok mafia.

Saya juga berusaha menjaga kesehatan mental dan fisik saya. Perjuangan ini bukan hanya tentang fisik, tapi juga ketahanan jiwa. Ada saatnya rasa lelah dan putus asa datang, namun saya belajar untuk bangkit setiap kali terjatuh. Saya menulis jurnal harian sebagai pelampiasan dan refleksi, mencari kekuatan dalam doa dan harapan, serta sesekali mengambil waktu untuk menyepi dan menenangkan diri.

Dukungan dari komunitas internasional juga mulai mengalir perlahan. Beberapa LSM dan organisasi hak asasi manusia mulai membuka telinga dan mata mereka terhadap kasus saya. Mereka membantu menyebarkan cerita saya ke jaringan global, dan mengingatkan bahwa perjuangan melawan mafia tanah dan korupsi bukan hanya persoalan lokal, tapi isu kemanusiaan yang mendunia.

Di tengah tantangan dan tekanan, saya menyadari satu hal penting: perjuangan ini bukan hanya milik saya, tapi milik banyak orang yang tidak punya suara. Dengan solidaritas, kita menjadi lebih kuat. Dengan ketahanan, kita tetap hidup dan berjuang.

Saya tidak tahu seberapa lama jalan ini akan berlangsung, tapi saya yakin bahwa setiap langkah kecil adalah kemenangan. Karena di balik setiap kegelapan, ada cahaya yang menunggu untuk bersinar.



Bab 6: Menyuarakan Keadilan di Panggung Dunia

Ketika pintu-pintu di dalam negeri tertutup rapat dan hukum seolah hanya menjadi alat penguasa, saya tahu saya harus mencari jalur lain. Perjuangan saya tidak bisa berhenti hanya karena negara saya tak memberi ruang. Dunia ini luas, dan ada banyak mata yang siap melihat, mendengar, dan membantu ketika keadilan terabaikan.

Saya mulai menghubungi lembaga-lembaga internasional yang memiliki misi melindungi hak asasi manusia dan lingkungan. Organisasi seperti Human Rights Watch, Amnesty International, dan PBB menjadi tujuan saya. Melalui mereka, saya berharap kisah saya tidak hanya menjadi persoalan pribadi atau lokal, tapi menjadi bagian dari peringatan bagi negara-negara lain tentang bagaimana mafia tanah bisa menghancurkan kehidupan warga dan merusak lingkungan.

Menyusun laporan-laporan resmi untuk disampaikan ke lembaga-lembaga ini bukan pekerjaan mudah. Saya harus merinci setiap bukti, menyusun kronologi secara sistematis, dan menyiapkan dokumen-dokumen pendukung yang kuat. Ini adalah perjuangan lain: bagaimana menjadikan suara saya sah dan didengar dalam sistem internasional yang kompleks dan penuh birokrasi.

Namun, langkah ini memberi saya harapan baru. Ketika surat saya diterima, ketika petugas PBB menunjukkan perhatian, saya merasa bahwa perjuangan saya ada artinya. Saya bukan lagi seorang perempuan yang sendirian melawan kekuatan besar; saya menjadi bagian dari gerakan global yang menuntut keadilan, keberlanjutan, dan penghormatan terhadap hak-hak rakyat, khususnya di Indonesia.

Di waktu yang sama, saya terus merenung tentang makna semua ini. Perjuangan melawan mafia tanah, melawan ketakutan, melawan ancaman pembunuhan, bukan hanya soal mempertahankan lahan atau nama baik saya. Ini tentang mempertahankan kemanusiaan, mempertahankan keyakinan bahwa kebenaran suatu saat akan menang.

Saya belajar bahwa keberanian bukan berarti tanpa rasa takut, tetapi tetap maju walau takut. Bahwa keadilan seringkali adalah perjalanan panjang yang penuh liku, tapi harus ditempuh karena kebenaran tidak bisa diabaikan selamanya.

Saya juga menyadari bahwa perjuangan ini bukan hanya milik saya, tapi warisan untuk generasi mendatang. Agar mereka tidak perlu lagi menghadapi kekejaman yang sama. Agar mereka bisa hidup dalam negeri yang benar-benar adil, di mana hukum bukan alat penguasa, tapi pelindung rakyat.

Dengan keyakinan itu, saya terus melangkah. Meski terkadang lelah dan terluka, saya tahu setiap suara yang disuarakan adalah batu bata yang membangun masa depan yang lebih baik.



Bab 7: Warisan dan Harapan  "Pesan untuk Generasi Mendatang"

Perjalanan ini telah mengubah saya. Dari seorang yang hanya ingin mempertahankan tanah dan nama baik, saya menjadi saksi betapa rapuhnya sistem yang seharusnya melindungi rakyat kecil. Saya melihat sisi gelap negeri ini dimana keadilan bisa dibungkam oleh kekuasaan dan uang, dan keberanian bisa dihargai dengan ancaman nyawa.

Namun, saya juga belajar satu hal yang tak ternilai: bahwa harapan adalah kekuatan terbesar yang dimiliki manusia.

Untuk generasi muda yang membaca kisah ini, saya ingin menyampaikan pesan tulus:

" Jangan pernah takut untuk bersuara. Jangan pernah diam ketika melihat ketidakadilan. "

Dunia mungkin tampak berat dan tidak adil, tapi perubahan selalu dimulai dari keberanian satu orang yang memutuskan untuk bertindak.

Pelajari hak-hakmu, pahami nilai keadilan dan kebenaran, dan berani berdiri tegak. Jangan biarkan suara-suara kecil tertutup oleh teriakan para penguasa dan penindas.

Perjuangan saya bukan hanya untuk saya, tetap jugai untuk kalian semua agar suatu hari nanti, tidak ada lagi yang harus mengalami apa yang saya alami. Agar tanah air ini menjadi tempat yang adil dan aman untuk tumbuh dan bermimpi.

Saya juga berharap tulisan ini menjadi pengingat bahwa di balik angka dan dokumen hukum, ada manusia yang hidup, berjuang, dan merasakan sakit yang dalam. Saya salah satu saksi hidup. Jangan biarkan mereka berjuang sendiri.

Akhir kata, saya percaya bahwa kebenaran akan selalu menemukan jalannya. Dan selama kita masih berani bermimpi dan berjuang, harapan itu tidak akan pernah mati.



Bab 8: Awal Baru — Harapan Baru di Negeri Barat - Canada

Kami kini telah menetap di Kanada  kampung halaman suami saya  sebuah tempat yang memberi kami kesempatan baru untuk hidup dengan martabat, keamanan, dan kebebasan. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ketiga anak kami dapat bersekolah dengan tenang, membuka pintu menuju masa depan yang penuh harapan dan kemungkinan. Melihat mereka belajar, tumbuh, dan berani bermimpi di lingkungan baru ini memenuhi hati saya dengan optimisme yang penuh kehati-hatian. Sebuah harapan yang tidak datang begitu saja, melainkan lahir dari perjuangan dan pengorbanan.

Namun, di tengah janji dari awal yang baru ini, luka itu tetap tertanam dalam diri kami. Indonesia—tanah kelahiran, tempat memori kami terukir, dan medan perjuangan kami—tercabik dalam jiwa kami. Ia hidup dalam luka yang kami bawa, dalam kisah-kisah yang kami wariskan, dan dalam ruang-ruang hening tempat duka masih diam-diam tinggal. Jarak tidak serta-merta menghapus rasa sakit itu. Ia tetap bersama kami. Ia akan selalu ada  sebagai pengingat atas pertarungan yang kami jalani dan ketidakadilan yang kami alami.

Namun keberanianlah yang menggerakkan kami untuk menghadapi hari demi hari dengan tekad. Di Kanada ini, kami memiliki kesempatan untuk membangun kembali kehidupan, untuk menumbuhkan rasa aman dan harapan bagi anak-anak kami, serta untuk menyembuhkan luka-luka yang dulu terasa tak tersembuhkan. Babak baru ini adalah pelarian sekaligus panggung  tempat di mana suara kami bisa didengar tanpa rasa takut, dan di mana keluarga kami bisa tumbuh kuat dalam naungan kebebasan.

Kami membawa beban masa lalu, tapi juga membawa visi tentang hari esok yang lebih baik. Tentang masa depan di mana anak-anak kami bisa tumbuh tanpa ketakutan, di mana keadilan dan martabat bukan sekadar ideal, melainkan kenyataan yang bisa dijalani. Meski bayang-bayang sejarah masih membuntuti, tekad kami pun tetap menyala  untuk menghormati kebenaran yang dulu kami perjuangkan, dan merengkuh harapan yang ditawarkan oleh tanah baru ini.

Perjalanan ini telah mengajarkan saya bahwa proses penyembuhan tidaklah lurus, dan harapan bukanlah hal yang naif. Ia adalah tindakan keberanian  keputusan sadar untuk melihat melampaui luka, dan percaya pada kekuatan sebuah awal yang baru. Kanada kini menjadi rumah kami, tetapi Indonesia tetap ada di dalam hati kami. Dan saat kami melangkah ke depan, kami membawa keduanya  masa lalu yang menyakitkan, dan cakrawala yang penuh cahaya.



https://manusiaintegritas.blogspot.com/2025/10/agrarian-crimes-in-indonesia-how-state.html

(Ellis Ambarita Dickran)

Still Alive, Still Speaking Out: A Memoir of Land 3050 Hectares , Betrayal, and Defiance

Fighting a Borderless War , A Personal Testimony of Land Rights, Criminalization, and Resistance in Indonesia (2007-2017)


Three thousands and fifty hectares or 7,537 acres land in Putat Rokan Hilir, Riau, Indonesia belong to PT. Ria Estella. "Billions of US dollars burned up and robbed."


Foreword

I did not write this memoir to mourn my suffering or to seek pity. I wrote it to declare that I am still alive  even though they wanted me dead. I am still standing even though they tried to bring me down.

This journey has been filled with wounds, but also with lessons. I know that my struggle is just a small part of a much larger and heavier story. Across the archipelago, there are still many voices silenced, and many truths hidden behind the shadows of power.

But I believe that as long as there are those brave enough to speak out, as long as there are those who dare to resist, there is hope for this nation. Struggles are never in vain, because every small step leads toward greater change.

This memoir is my voice the voice of a woman who never gave up. I dedicate this voice to those who have lost theirs, to those who are wounded, and to those still walking the same path of resistance.

Let us keep the voice of truth alive. Because when that voice disappears, darkness will take over the land.

And I choose to live in the light, even though the path is full of obstacles.




Chapter 1: Hunted by Shadows, Betrayed by My Own Country

Every person carries wounds. But not all wounds are visible. Some are hidden behind smiles, others are buried deep by systems that never take our side. This is my story not fiction, not drama, but a harsh reality from a homeland that was meant to protect me, but instead stripped me bare.


Several years ago, my life changed drastically. It started with a land conflict involving a 3,050-hectare concession legally owned by PT Ria Estella in the Putat area of Rokan Hilir, Riau. This was a legitimate estate, later seized by actors masquerading as farmers who were, in fact, pawns of the land mafia.


At first, I thought it was just a typical land dispute. I was wrong. This wasn’t about property it was about power, conspiracy, and a deadly game. I was surrounded. Lies were spread from all directions. My reputation was destroyed, and even my private life was dragged into the chaos. I was followed, threatened, and nearly killed in an assassination attempt.


In the span of a year, I had to move between more than thirteen apartments in Jakarta just to escape the pursuit of the “invisible hand.” Strange items were sent to my home a silent message of threat. My police reports were dismissed as trivial. None were acted upon.


One by one, officials who tried to help mediate the conflict died under mysterious circumstances. A department head who supported us died suddenly without a clear cause. Other district heads in Rohil met the same fate. All while we were fighting for justice through legal channels.


The threats didn’t stop with me. An environmental officer who rejected a multi-billion rupiah bribe was forced to resign for fear of his life. Law enforcers who initially supported us suddenly went silent. Some were approached by intellectual actors behind the scenes, including a university lecturer who posed as a “hero of the farmers” and is now a figure in Apkasindo. He contacted a prosecutor we had worked with and began spreading false claims that I was insane, abandoned, and had been deserted by my husband who fled overseas. Lies designed to assassinate my character.


Worse yet, the lecturer's wife and others supporting him were from Samosir, forming a small but dangerous network. They orchestrated every move to eliminate me from this fight. There were even signs that they had planned to poison me. I was not targeted simply over land I was targeted because I refused to kneel. I refused to give in.


Indonesia stayed silent. The state was too busy pleasing investors and oligarchs to hear the cries of its own people. I don’t know how long I’ll be able to write like this. But one thing is certain: I will keep speaking out even if mine is the only voice left.


Chapter 2: Letters, Pleas, and Silence from State Authorities

I didn’t give up in the face of threats. After enduring repeated terror and slander, I took the most rational and lawful step I reported everything to law enforcement.


I went to the local police, the district office, the provincial police, even sent formal reports to National Police HQ. I didn’t come empty-handed I brought legal documents, land ownership certificates, recordings, and a full chronology of crimes committed on PT Ria Estella’s land. This wasn’t just a land grab. It was large-scale illegal logging orchestrated by land mafia disguised as farmers.


But I didn’t find justice. I found fear.


On the ground, officers looked away, passed responsibility, or went silent after a while. Some who initially supported us suddenly disappeared. Everything I fought for vanished into a dark corridor with no echo.


I didn’t stop there. I escalated the case to the Ministry of Agriculture, hoping for a breakthrough or at least legal protection for a legitimate investment. But instead of protection, I found fear and hesitation. Ministry officials, who should’ve stood firm for agrarian justice, fidgeted and danced around words. I could see it they were being watched. They were afraid to cross powerful interests.


But who were they afraid of? That question kept repeating. I witnessed firsthand how the land mafia and illegal logging networks held invisible power. They accessed strategic information, manipulated legal narratives, even influenced officials and state apparatus. These were not street thugs. These were polished agents of a deeply entrenched land oligarchy.


Meanwhile, forest destruction continued. Logs from illegal logging were sold without permits, drying up water sources and displacing communities. Ironically, those labeled as polluters or illegal actors were the ones fighting to protect land with lawful permits.


The state was present but not on our side. In every legal process we followed, the mafia stayed one step ahead. They infiltrated institutions, steered media coverage, and even tried to silence us through academic and social channels.


I still remember one meeting with ministry representatives. When I presented all the evidence, the room fell into an eerie silence. No one dared to decide. I wasn’t begging for pity I was demanding justice based on fact. But justice, it seemed, had to queue and the queue was owned by capital.


I left that room with a bitter heart. When ministries fear the mafia, the state has already lost its courage.


Chapter 3: From Silence to Public Spotlight

After wandering through every corridor of the state system, I realized something: justice is hard to find not because the law is absent, but because it is not enforced. Not because the authorities are unaware, but because many are afraid, compromised, or infiltrated.


I could no longer rely solely on formal procedures. So I made a critical decision " take this to the public."


I compiled a comprehensive report permits, illegal logging footage, company registration documents, and records of the threats I had endured. I sent them to various media outlets. Some refused. Some said it was “too sensitive.” But some dared to publish. That was the first crack in the wall of silence.


I reached out to members of Parliament particularly from Commissions II and IV dealing with land and agriculture. Some met with me discreetly. They read my reports carefully. But most admitted they couldn’t do much. There was pressure, there were orders, and there was an invisible force shaping land politics in this country.


One parliamentary staffer even told me, “Don’t interfere with the investments of tycoons and cronies. Our country isn’t entirely free.”


That line stuck with me. I realized this fight wasn’t just over land. It was about sovereignty. Whether Indonesia could still defend its people and laws from the rule of money.


So I filed new reports. I sent them to the National Human Rights Commission, the Ombudsman, even international watchdogs like Human Rights Watch and Global Witness. I knew it was a long and risky path. But if my own country failed to uphold justice, then the world needed to know how land mafia had hijacked democracy.


I also started educating local communities farmers, indigenous leaders, villagers misled by manipulation. I taught them what land rights are, how environmental crimes work, and what constitutional protections they hold. I wasn’t just defending corporate land I was reigniting a sense of dignity.


I knew I was being watched. Some tried to infiltrate my circle. Others returned with compromise offers. But I had crossed the line. What I was fighting for was no longer just land it was principle.


That principle: this nation must not bow to power hidden behind permits but operating against the law.


As this journey continued, I started writing this narrative for the next generation. This isn’t just a case file. It’s a memoir of resistance. Proof that when all institutions are silent, truth must still speak.



Chapter 4: When War Knows No Bounds in Criminalization and Terror

As my voice began to gain recognition and a wave of grassroots resistance started to rise, retaliation from those in power intensified. My adversaries realized that destroying my character was far easier than confronting the truth I carried. I became the target of systematic criminalization.

False accusations poured down like heavy rain. Claims that I was “mentally unstable,” “incapable of self-care,” and even rumors that I had been “abandoned by a husband who fled overseas” were spread strategically. This smear campaign was not random  it was orchestrated by a tightly connected network, including a university lecturer once praised as a hero of agrarian justice, now reduced to a propaganda tool.

Psychological warfare escalated. My movements were tracked. Threats arrived through phone calls and messages. Suspicious packages began arriving at my apartment. I was forced to move more than thirteen times in a single year just to stay alive.

They infiltrated my network. Trusted individuals abruptly changed behavior some pulled away out of fear, others appeared to be complicit. A group posing as “defenders of indigenous custom” and “peasant fighters” turned out to be agents of the land mafia, using cultural rhetoric to mask their violent land-grabbing agenda.

Most terrifying was learning of a plot to assassinate me  a plan confirmed by credible sources. The method was to be undetectable: poison or a fatal agent known locally as putas. The group was reportedly led by the wife of one of the main actors in this conflict  a woman from Samosir  who allegedly recruited local youths to carry out the murder.

This was a war without front lines. Not only against individuals trying to seize my land, but also against a system that allowed such criminality to flourish unchecked. The police, who should have protected me, often turned a blind eye or worse, acted in ways that increased my fear. Government officials chose silence and inaction over justice.

Still, I endured. I knew surrender was not an option. The threats were real, but retreat was not. This fight had grown far beyond me  it had become a fight for truth, for land, for justice, and against tyranny itself.

Amid the terror, I found strength from within and from a few people who stood by me. Their belief in the truth became a flicker of light in an otherwise pitch-black corridor.


Chapter 5: Light in the Darkness  "Solidarity and Resilience"

In the darkest hours, I discovered a flicker of hope through those who refused to give up on justice. Though few in number, their support was powerful. From them, I learned that resistance is not only about facing enemies  it's about building strength through solidarity.

I began weaving a web of resistance. Old friends, environmental advocates, respected elders, and a few brave officials offered their support  in the form of moral encouragement, legal assistance, and even physical protection during sensitive meetings.

Communities once divided began to realize the truth behind the land conflict. I joined them in organizing village meetings and informal discussions to raise awareness on agrarian rights and environmental protection. This collective awakening grew into a form of grassroots defense, a social wall against the mafia’s advance.

I also committed to safeguarding my mental and physical health. The battle was not just external  it was spiritual, emotional, and psychological. I journaled daily, turned to prayer and solitude for strength, and learned to rise each time I fell. Resilience became my discipline.

International support began to trickle in. NGOs and human rights organizations slowly opened their eyes and ears to my story. They began helping amplify it, reminding the world that the fight against land mafias and corruption is not only a local concern, but a global human rights crisis.

In the face of continued threats, I saw the power of collective resistance. This struggle is not mine alone. It belongs to every voice silenced by fear. Together, we became stronger. Together, we survived.


Chapter 6: Speaking Truth on the Global Stage

With justice blocked at every level within my own country, I knew I had to find another path. The fight could not end just because my homeland refused to hear it. The world is vast and there are those who still believe in justice.

I began reaching out to international bodies the United Nations, Amnesty International, Human Rights Watch — organizations committed to protecting the rights of people and the environment. My aim was simple: to ensure this was no longer treated as a private or local matter, but recognized as a global warning.

I worked painstakingly to compile official reports: organizing evidence, structuring chronologies, and preparing thorough documentation. It was a new kind of battle  fighting for my voice to be formally heard in international legal and diplomatic systems known for their complexity and slowness.

But this step renewed my hope. When my submissions were acknowledged and international officers responded, I realized I was no longer alone. I had become part of a global movement  a struggle for dignity, truth, and justice.

I reflected often: this war wasn’t just about defending land or reputation. It was about defending what makes us human our right to safety, to justice, to truth. Courage, I learned, is not the absence of fear  it is acting in spite of it. And justice, no matter how delayed, must be pursued because truth cannot be permanently buried.

This struggle, I now understand, is not only my burden. It is a legacy one that I fight to leave for future generations.


Chapter 7: Legacy and Hope — A Message for the Next Generation

This journey has transformed me. From someone who simply wanted to protect land and reputation, I became a witness to the collapse of systems meant to protect the vulnerable. I saw the darkest sides of power  where justice is muted by money, and courage rewarded with death threats.

Yet I also discovered something priceless: hope is the most powerful force we possess.

To the young generation reading this:
Never be afraid to speak up.
Never stay silent in the face of injustice.
The world may be heavy and unfair, but change always starts with the courage of one voice.

Learn your rights. Understand justice. And dare to stand firm. Don’t let your voice be drowned out by the noise of the powerful. You are not alone.

This fight was never just for me. It was for you so that one day, no one else has to suffer what I endured. So that this country becomes a place where fairness and dignity are real, not just slogans.

I hope this testimony serves as a reminder: behind every legal number and policy document, there is a human life  one that bleeds, struggles, and dares to hope. Don't let them fight alone.

In the end, I believe that truth always finds its path. And as long as we still dream and fight, hope will never die.


Chapter 8: A New Beginning of Hope and Pain in a New Land

We have now settled in Canada  my husband’s hometown  a place that offers us a new chance to live with dignity, safety, and freedom. For the first time in a long while, our three children can attend school in peace, opening doors to a future filled with possibilities and hope. Watching them learn, grow, and dream in this new environment fills my heart with cautious optimism. It is a hope hard-won, born from struggle and sacrifice.

Yet, amid the promise of this fresh start, the pain remains deeply rooted inside us. Indonesia the land of our birth, our memories, and our fight is torn within our souls. It lives in the scars we carry, in the stories we tell, and in the silent spaces where grief still dwells. That pain does not fade simply because the distance between us and our homeland has grown; it stays with us. It will always be there, a constant reminder of the battles we fought and the injustices endured.

Still, courage fuels us to face each day with determination. Here in Canada, we have the opportunity to rebuild, to nurture safety and hope for our children, and to heal wounds that seemed insurmountable. This new chapter is both a refuge and a platform — a place where our voices can be heard without fear, and where our family can grow strong in the shelter of freedom.

We carry the weight of the past, but we also carry a vision of a better tomorrow. The promise of a future where our children can thrive without fear, where justice and dignity are not just ideals but lived realities. Though the shadows of our history linger, so does our resolve  to honor the truth we fought for, and to embrace the hope that this new land offers.

This journey has shown me that healing is not linear, and hope is not naive. They are acts of courage  conscious decisions to look beyond pain and to believe in the power of new beginnings. Canada is now our home, but Indonesia remains in our hearts. And as we move forward, we carry both with us  a painful past, and a bright horizon.


https://manusiaintegritas.blogspot.com/2025/10/agrarian-crimes-in-indonesia-how-state.html


(Ellis Ambarita Dickran)



Saturday, July 26, 2025

Tempat mendapat Kepuasan ada di Bumi dan mendapatkan Kelegaan ada di Surga.

♦️Perenungan tentang hakikat manusia,  sikap hati dalam menjalani hidup.♦️


"Makan dengan Menunduk, Minum dengan Menengadah"

Manusia diciptakan tidak untuk makan, tetapi makan agar tetap hidup.

Saat manusia makan, ia menundukkan kepala, sebuah gerak tubuh yang mencerminkan kerendahan. 

Tetapi saat ia minum, ia menegakkan lehernya, seolah memandang ke langit, mengingatkan bahwa air hidup itu dari atas.

Tuhan menciptakan tubuh manusia dengan pesan simbolik.

Bahwa berkat dan kehidupan sejati datang dari atas, bukan dari dalam perut.

Maka barangsiapa hidup hanya untuk mengisi perutnya, ia telah lupa arah pandang rohnya.

Ia menjadi jiwa yang hilang, sebab ia tidak menyadari bahwa manusia diciptakan bukan untuk memuaskan keinginan diri, melainkan untuk memenuhi bumi dengan makna, dan mengalahkan egonya sendiri.

Orang-orang yang gagal mengalahkan egonya sendiri, "Orang seperti ini disebut jiwa yang hilang karena tidak menyadari tujuannya dia diciptakan hidup di bumi ini bukanlah untuk makan melainkan untuk memenuhi bumi ini dan mengalahkan egonya." Sangat simpel tapi susah dipraktekkan.


“Untuk apa kita hidup?”

Pertanyaan ini kelihatannya klise. Tapi jawaban kita atas pertanyaan ini menentukan seluruh arah hidup kita.


Pernahkah Anda sadari mengapa saat makan menunduk? 
Saat kita makan, kita menunduk, bukan? Kita melihat ke bawah.
Tubuh kita secara alami tunduk saat ingin memuaskan kebutuhan jasmani.

🔹 Ini simbol bahwa kita rapuh.
🔹 Kita butuh makanan agar bisa bertahan hidup.
🔹 Tapi ini juga merupakan suatu peringatan "jangan biarkan hidup hanya soal perut." 

Bahwa kebutuhan jasmani membuat kita menunduk, merendah, dan bergantung.

Kita tidak bisa sombong karena tubuh kita rapuh. Kita makan supaya tetap hidup, bukan hidup untuk makan.

Lalu Mengapa Saat Kita Minum, Kita Menengadah?

Saat kita minum, kita menengadah.
Leher terangkat, kepala sedikit mendongak, bukan?

🔹 Ini lambang pengharapan dan kebergantungan kepada Yang Mahatinggi.

🔹 Air adalah simbol kehidupan spiritual, anugerah dari Sang Maha Pencipta
🔹 Kita hidup bukan hanya karena nasi, tapi karena hikmat dan kasih dari Sang Pencipta.

Saat kita minum, leher kita menengadah, kita menatap ke atas. Seolah-olah kita diingatkan bahwa air kehidupan datangnya dari atas, dari sumber ilahi.

Ini adalah lambang pengharapan dan pengakuan, bahwa kita butuh sesuatu yang lebih tinggi daripada sekadar roti atau nasi.

Tuhan mendesain tubuh kita bukan asal-asalan.

Setiap gerakan punya makna.

Tuhan ingin kita sadar bahwa Kita bukan diciptakan untuk menjadi budak perut.

Kita tidak hidup hanya untuk mengejar kenyamanan diri.

Kita diciptakan untuk membawa terang ke dunia ini, untuk mengisi bumi, untuk mengalahkan ego, dan menjadi berkat bagi sesama.


"Janganlah menjadi Jiwa yang Hilang"

Saat seseorang hidup hanya untuk mencari makan, hanya memikirkan perutnya sendiri, hanya mengutamakan kepentingan pribadinya. Maka dia telah kehilangan jiwanya.


Kedengarannya kasar menyebut orang yang kehilangan jiwanya menjadi seperti hewan, bukan manusia.

Hewan pun makan. Tapi manusia diberi hati nurani, diberi roh, diberi misi.

♦️Kita Punya Misi♦️

Kita lahir bukan kebetulan.

Setiap dari masing-masing kita punya tujuan ilahi, bukan untuk sekadar sukses dunia, tapi untuk menjadi alat Tuhan bagi dunia yang sedang rusak ini.

Jangan biarkan hidup kita habis hanya untuk mengejar status, harta, atau kenikmatan sesaat.

Tegakkan kepala atau Pandang ke atas, apa artinya? 

Mintalah air kehidupan, supaya hidup kita punya makna, dan kita menjadi manusia seutuhnya, bukan hanya tubuh, tapi jiwa dan semangat yang hidup.


Berhati-hatilah Bahaya Mentalitas "Perut"

Manusia yang hanya memikirkan:

  • Keuntungan pribadi

  • Kenyamanan diri

  • Kesenangan sesaat

Orang demikian adalah manusia yang telah kehilangan arah hidupnya atau jiwa yang hilang arah.
Orang demikian tidak berbeda dengan hewan yang hanya mengejar makan dan tidur.


Tujuan Hidup Kita Diciptakan

Tuhan menciptakan Manusi untuk:

  • Membawa terang

  • Menjadi berkat

  • Menjadi wakil kasih Sang Maha Pencipta  di duni ini.

  • Bukan hanya mengisi perut, tapi mengisi dunia dengan kebaikan dan keadilan.

Teman-teman, saya ingin mengajak anda merenungkan beberapa hal:

🤔 Apakah anda hidup hanya untuk mengejar kenyamanan duniawi?
🤔 Kapan terakhir kali anda menengadah/berdoa, bersyukur, atau melayani?
🤔 Sudahkah anda menemukan misi hidup anda?


"Makan membuat kita menunduk. Minum membuat kita menengadah.  Maka hiduplah bukan hanya untuk perut, tapi juga untuk panggilan dari Sang Pencipta ."


Kita makan dengan menunduk, tapi kita minum dengan menengadah.

Itu artinya "kita hanya benar-benar hidup saat kita merendah untuk menerima berkat, dan menengadah untuk mengingat siapa yang memberi hidup."

Mari jadi manusia yang rendah hati, namun berorientasi tinggi,
Yang makan dengan sadar, dan minum dengan penuh harap.
Karena hidup ini terlalu berharga untuk dihabiskan hanya mengejar dunia.


Friday, July 18, 2025

Beggar Mentality vs. Innovator Mentality: The Path That Shapes a Nation’s Future

 


"Why some wait to be given while others dare to create — and what that means for our future"

By Ellis Ambarita


In a nation rich with natural resources, it is ironically common to find people living only to survive. Their lives revolve around a narrow mindset: as long as there's food on the table, as long as things stay peaceful, as long as they’re safe. There are no big dreams, no long-term goals. This is what I call a beggar mentality—a way of thinking shaped by fear, resignation, and intellectual laziness.


The beggar mentality is not about being poor in wealth—it’s about being poor in vision. It infects those who think only of themselves, who avoid responsibility, who refuse to change or take initiative. They seek instant gratification, respect without contribution, and comfort without risk. They expect something for nothing and criticize everything while creating nothing.


In contrast, an innovator mentality defines those who think ahead, create, and persevere. Innovators don’t fear failure—they embrace it. They understand that failure is part of progress. Each setback is information, not a curse. They take initiative, explore the unknown, and build something that didn’t exist before.


It is this innovator mindset that builds civilizations. No society has ever moved forward through dependence and passivity. Everything we enjoy today—technology, freedom, education—was born from someone’s courage to take risks, to try, and to fail forward.


So we must ask ourselves honestly:

Are we operating with a beggar mentality—afraid to act, waiting to be rescued?

Or are we cultivating a creator mentality—taking risks, contributing, and leading?


This country cannot rely forever on subsidies, handouts, or foreign debt. We cannot continue patching over systemic hunger with short-term solutions. What we need is a new generation of thinkers and builders:

Those who think not only of today, but of the generations to come.

Those who work not only for wages, but for purpose and sustainability.

Those who create not for applause, but for impact.


Because in the end, the future will not belong to those who wait to be given.

It will belong to those who dare to create.









✍️ About the Author

Ellis Ambarita is a writer, cultural observer, and social thinker dedicated to awakening collective awareness and civic responsibility. His works explore nationhood, innovation, and the transformation of mindset in the face of global and local challenges.

Mental Pengemis vs Mental Inovator: Jalan yang Menentukan Masa Depan Bangsa

Oleh : Ellis Ambarita

Di negeri yang kaya sumber daya, ironisnya banyak orang hidup hanya untuk bertahan. Mereka menjalani hidup dengan pola pikir sempit: asal bisa makan hari ini, asal tidak diganggu, asal selamat. Tidak ada mimpi besar, tidak ada orientasi jangka panjang. Inilah yang saya sebut sebagai mental pengemis—mentalitas yang tumbuh dari kepasrahan, ketakutan, dan kemalasan berpikir.


Mental pengemis bukan soal kemiskinan ekonomi, melainkan kemiskinan visi. Ia menjangkiti siapa saja yang hidup hanya untuk diri sendiri. Orang-orang dengan mental ini tidak tertarik pada karya, tidak peduli pada perubahan, dan cenderung alergi terhadap kegagalan. Mereka ingin hasil instan tanpa proses. Ingin dihormati tanpa pernah berkontribusi. Ingin perubahan tanpa keberanian untuk berubah.


Sebaliknya, di sisi lain jalan, ada mereka yang memilih untuk berpikir, berkarya, dan terus mencoba. Mereka memiliki apa yang saya sebut sebagai mental inovator—cara berpikir yang berani, tahan banting, dan selalu berorientasi pada solusi. Inovator sejati tidak takut gagal. Mereka tahu bahwa kegagalan adalah bagian dari kemajuan. Setiap kegagalan adalah informasi, bukan kutukan.

Mental inovator adalah fondasi dari peradaban yang maju. Tanpa mental ini, tidak akan ada penemuan, tidak akan ada perubahan sosial, tidak akan ada bangsa yang mandiri. Kita tidak akan pernah melihat teknologi, budaya, dan sistem yang kita nikmati hari ini jika generasi sebelumnya hanya berpikir tentang perutnya sendiri.


Kita perlu bertanya secara jujur pada diri sendiri:

Apakah selama ini kita hidup dengan mental pengemis—hanya berharap diberi dan takut mengambil risiko?

Ataukah kita mulai menumbuhkan mental inovator—yang berani menciptakan, memberi, dan mengambil tanggung jawab?


Negara ini tidak bisa terus bergantung pada bantuan, subsidi, atau utang luar negeri untuk bertahan hidup. Kita tidak bisa membangun peradaban hanya dengan rasa lapar yang terus ditambal. Kita butuh manusia-manusia baru:

Yang berpikir bukan hanya untuk hari ini, tapi untuk generasi berikutnya.

Yang bekerja bukan hanya demi upah, tapi demi keberlanjutan.

Yang berkarya bukan untuk popularitas, tapi demi kontribusi.


Karena pada akhirnya, masa depan tidak akan dibentuk oleh mereka yang hanya menunggu diberi,

tetapi oleh mereka yang menciptakan.




Tentang Penulis:

Ellis Ambarita adalah penulis, pemikir sosial, dan aktivis kebudayaan yang percaya bahwa perubahan besar dimulai dari kesadaran kecil. Ia menulis tentang arah bangsa, pendidikan, dan pentingnya membangun kesadaran kolektif.


Wednesday, July 9, 2025

Biografi Ellis Ambarita Dickran

BIOGRAFI

Ellis Ambarita Dickran

(Activist | Legal Analyst | Cultural Advocate)


PROFILE OVERVIEW

- Name: Ellis Ambarita Dickran

- Ethnic Lineage: Boru Ambarita (Batak Toba), Descendant of Raja Ompu Mamontang Laut

- Origin: Jakarta Selatan, Indonesia

- Current Residence: Vancouver, British Columbia, Canada

- Identity: Married to Richard Dickran, blessed with 3 children (2 daughters & 1 son), Cultural idealist, legal realist, and environmental humanist.


Works behind the scenes to uphold truth, justice, and national dignity.


LEGAL & ENVIRONMENTAL COMPETENCE

- Certification: International Environmental Legal Compliance & Governance

- Areas of Expertise:

• Environmental Impact Law

• Indigenous Land Rights

• Legal Transparency and Reform

- Advocacy Focus:

• Defending ancestral territories from elite capture and foreign exploitation

• Promoting legal reform in Indonesia's extractive and agrarian sectors


CORE ACTIVISM & INTELLECTUAL FOCUS

- Anti-Oligarchy Advocacy: Uncovering elite collusion in law, economy, and governance.

- Batak Cultural Preservation: Revitalizing traditional structures like Dalihan Natolu, restoring dignity to ulos, tortor, and Batak womanhood (boru).

- Spiritual and Moral Leadership: Advocating for divine consciousness (takut akan Tuhan) as a basis for ethical governance.

- Silent Civic Engagement: Believing that true service to the nation is often done quietly, without public spectacle.


SELECTED WORKS & ESSAYS

- “Pancasila Dihujat di Negerinya Sendiri”

A critical essay exposing the systematic betrayal of Indonesia’s democracy by its elite.

- “Identitas yang Dihapus”

A cultural investigation into how oligarchic powers erased the historical identity of Batak Karo.

- “Keadilan untuk Tanah Batak”

Legal analysis of how extractive capital threatens Indigenous sovereignty in Northern Sumatra.

- “Neo-Corporate Communism”

A deconstruction of modern authoritarianism cloaked as ESG and infrastructure investment.

- “Not All Service Must Be Photographed”

A short reflection on patriotism, humility, and quiet resistance.


VISION & MISSION

"To defend the nation not by parading under bright lights, but by protecting its soul in silence."

- Advocate for true justice free from elite manipulation

- Defend Indigenous land rights and ecosystems

- Restore spiritual and cultural integrity beyond state manipulation

- Speak for the silenced, forgotten, and marginalized

- Resist all forms of oppression—whether cloaked in ideology, religion, or capital

LIFE MOTTO

“Be just, even if you stand alone. For God sees not from the crowd, but from the sincerity that is hidden.”



CURRENT INITIATIVES


- Drafting an international report to UNESCO and UNHRC on political manipulation of Karo Indigenous identity

- Developing a digital Batak genealogy archive tracing descendants of Si Raja Batak

- Providing consultation to grassroots Indigenous communities on land and sovereignty

- Producing a podcast and visual archive on Indonesia’s hidden civic resistance movements.




ACTIVE ENGAGEMENT

- Contributor to journals on human rights and environmental justice

- Advocate for adat law and spiritual renewal in Batak communities

- Informal consultant and speaker in Indigenous rights forums



Ellis Ambarita Dickran adalah seorang pemikir dan aktivis idealis yang secara konsisten menyuarakan ketimpangan struktural, kerusakan lingkungan, dan pengkhianatan ideologis terhadap konstitusi dan Pancasila di Indonesia.

Berangkat dari akar kebudayaan Batak yang kuat, ia membawa semangat perlawanan intelektual dan spiritual, seraya tetap berpijak pada adat, moral, dan ketakutan akan Tuhan.

Baginya, pengabdian kepada bangsa tidak harus ditampilkan di depan publik. Justru mereka yang bekerja dalam diam dan kejujuran adalah fondasi sejati bangsa ini. Sebagai penyintas intelektual dari sistem yang korup, Ellis menolak tunduk pada sistem kekuasaan yang dikendalikan oleh oligarki, taipan, maupun kekuatan asing. Ia mendorong transformasi kolektif dari masyarakat akar rumput—dengan senjata utama: kesadaran kritis, hukum, dan nilai-nilai luhur Pancasila.



KARYA DAN GAGASAN UTAMA


“Pancasila Dihujat di Negerinya Sendiri” – Opini tajam tentang degradasi demokrasi

“Keadilan untuk Tanah Batak: Eksploitasi, Kapitalisme, dan Perlawanan Rohani”

“Identitas yang Dihapus: Strategi Sistemik Pecah Belah Komunitas Adat”

“Komunisme Neo-Korporat: Bentuk Baru Penjajahan Ekonomi dan Kendali Global”

“Tidak Semua Pengabdian Harus Dipotret: Diam yang Membawa Terang”


🌍 VISI DAN MISI

Mendorong keadilan sosial dan hukum yang sejati, bebas dari rekayasa elite.

Membela hak-hak masyarakat adat, khususnya tanah dan ekosistem.

Membangun kesadaran budaya dan spiritual yang utuh, bebas dari manipulasi.

Menjadi suara bagi mereka yang terpinggirkan, terbungkam, dan dilupakan

Menolak segala bentuk penindasan—baik atas nama ideologi, agama, atau kapital


💬 MOTTO HIDUP

“Berlakulah adil, meski kau sendirian. Karena Tuhan menyaksikan bukan dari keramaian, tetapi dari keikhlasan yang tersembunyi.”


🔗 KETERLIBATAN AKTIF

Penulis lepas di jurnal-jurnal hak asasi dan ekologi;

Kontributor pemikiran budaya dan hukum adat;

Advokat spiritual dalam pembaruan identitas Batak;

Konsultan tidak tetap di forum diskusi hak masyarakat adat.



Aktivis Sosial • Pemerhati Hukum dan Lingkungan • Penulis di Freedom to succeed, Opini dan Budaya

 

Sertifikasi Environmental Legal Compliance & Governance (International Level)

Studi Hukum dan Keadilan Transisional

Pemerhati Politik Global dan Identitas Bangsa

 

 CONTACT & INQUIRIES:

- Facebook: https://www.facebook.com/ambarita.dickran/

- Email: ellisdickran@yahoo.com

- Languages: Bahasa Indonesia, English, (with understanding of Batak dialects)


© 2025 Ellis Ambarita Dickran. All rights reserved.